Kiamat Kecil – Peringatan Kepada Si Kerdil

Semua kita berasal dari Allah, hidup karena Allah dan akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan segala aktifitas yang sudah kita lakukan selama di dunia. Hal ini Allah tegaskan lewat firmannya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali juga kepada Allah”. (Q.S: Al-Baqarah: 156).

Urgensi kembalinya manusia kepada Tuhan disebabkan bahwa sumber kebahagiaan yang hakiki dan abadi hanya ada pada “pangkuan” Tuhan. Oleh karena itu, kematian adalah nikmat bagi manusia karena dapat kembali kepada Tuhan dan sekaligus menutup kehidupan duniawi yang serba tidak pasti dan penuh dengan penderitaan.

Manusia memang sudah dijanjikan oleh Tuhan bahwa kehidupannya di dunia menempuh jalan panjang dan berliku-liku serta sangat melelahkan guna mendapatkan secuil kenikmatan. Untuk memenuhi kehidupannya maka manusia harus berjuang dan berkorban, namun perjuangan dan pengorbanan ini tetap saja mendapat penilaian dari-Nya.

Menurut kata pakar bahwa nikmat dari kehidupan adalah ketika manusia beristirahat. Istirahat yang paling nikmat ketika manusia dalam keadaan tidur, akan tetapi ada lagi nikmat yang jauh lebih baik dari pada tidur yaitu nikmat kematian. Dengan demikian, maka kematian menurut pernyataan Rasulullah adalah istirahat panjang bagi orang-orang yang beriman.

Janji Allah dalam Al-Qur’an menyebutkan bahwa setiap yang bernyawa pasti menemui kematian. Rasulullah juga dalam sebuah haditsnya menyebutkan bahwa mati tetap saja satu meski pun penyebabnya berbeda-beda. Kedua dalil ini sudah sepantasnya menjadi pegangan bagi orang-orang yang beriman bahwa kehidupan di dunia hanya sementara dan kehidupan yang abadi adalah kehidupan di hari akhirat.

Ayat ini patut dijadikan sebagai komitmen bagi orang-orang Mukmin bahwa kematian bukan sesuatu yang ditakuti akan tetapi kematian itu sendiri merupakan sebuah cita-cita yang sangat dinanti-nantikan. Alasan bahwa kematian merupakan cita-cita yang dinantikan karena kematian itu sendiri merupakan prasyarat untuk menuju kehidupan yang sebenarnya.

Kematian dapat menjadi cita-cita bagi seorang Mukmin apabila timbul keyakinan dalam dirinya bahwa surga yang dijanjikan oleh Allah memang pantas didapatkannya. Sebaliknya, bila ada keragu-raguan maka kematian selalu menjadi momok dalam kehidupan dan bahkan tidak sedikit di antara manusia yang mencoba untuk menghindarinya.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kematian akan mendatangi manusia, bukan manusia yang mendatangi kematian. Dengan kata lain, apapun upaya yang dilakukan untuk menghindari kematian tidak akan pernah berhasil, karena kematianlah yang selalu membayang-bayangi kehidupan manusia sehingga cepat atau lambat maka kematian akan merasuk dengan tiba-tiba.

Bila kita semua adalah milik Tuhan, berarti orang-orang yang paling kita cintai hanyalah sebatas titipan-Nya. Manusia hanya diberikan hak untuk menikmati titipan bukan memilikinya. Oleh karena itu, jangankan diri orang lain bahkan diri sendiri pun bukan milik kita tapi adalah milik Tuhan. Maka tidak wajar jika manusia berontak ketika Sang Penitip mengambil kembali titipan-Nya.

Dalam Q.S. Hud ayat 9-11 yang artinya sebagai berikut: “Dan jika Kami berikan kepada manusia suatu nikmat dan kemudian nikmat itu Kami cabut pastilah dia berputus asa dan tidak mau berterima kasih. Kemudian jika Kami berikan kepadanya nikmat setelah mereka mendapat musibah pasti dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku” sesungguhnya dia sangat gembira dan bangga kecuali orang-orang yang sabar terhadap bencana dan berbuat baik mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar”.

Ayat ini menggambarkan sifat umum manusia secara keseluruhan yang tidak dapat menerima jika Allah mengambil kembali nikmat yang sudah diberikan-Nya. Sebaliknya manusia juga mudah lupa daratan ketika mendapat nikmat yang baru padahal dulunya dia mendapatkan musibah. Artinya, ketika kesedihan itu sudah mulai sirna maka secepat itu pula ia melupakannya.

Sebagai contoh, kita semua ini sudah pernah merasakan musibah kematian. Pada saat rasa kesedihan itu masih ada maka kita punya keinginan setiap hari ziarah ke keburuan orang yang kita sayangi karena pada saat itu rasa emosional kita masih tinggi. Akan tetapi ketika kesedihan sudah mulai sirna maka sekali setahun pun kita merasa kepayahan untuk melakukan ziarah.

Upaya yang penting dilakukan dalam menghadapi musibah kematian adalah menjadikannya sebagai pelajaran (mau’izhah). Bagi orang-orang yang mampu menjadikannya sebagai pelajaran berarti telah sukses membaca tindakan-tindakan Tuhan sehingga musibah kematian dijadikan sebagai batu loncatan untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya.

Kematian bukanlah akhir dari suatu kehidupan akan tetapi merupakan babak baru untuk memasuki gerbang kehidupan yang baru. Dalam kehidupan yang baru ini manusia tidak lagi disuruh untuk berjuang akan tetapi menunggu hasil dari pejuangan yang dilakukan selama ini. Jika yang dilakukan selama ini adalah baik maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan, dan sebaliknya jika yang dilakukan adalah yang tidak baik maka Allah akan membalasnya dengan hal-hal yang tidak baik.

——————–

dengarlah akan peringatan ini…..

>>>>>>>>>http://flash-mp3-player.net/medias/player_mp3_maxi.swf<<<<<<<<

———————

Rumi (transliterasi) Arab Terjemahan
Yawm al-Qiyāmaṯ يوم القيامة Hari kebangkitan
al-Sā’aṯ الساعة Waktu
Yawm al-Akhīr يوم الآخر Hari Akhir
Yawm al-Dīn يوم الدين Hari akhir (agama)
Yawm al-Faṣl يوم الفصل Hari keputusan
Yawm al-Ḥisāb يوم الحساب Hari perhitungan
Yawm al-Fatḥ يوم الفتح Hari pengadilan
Yawm al-Talāq يوم التلاق Hari perpisahan
Yawm al-Jam'(i) يوم الجمع Hari pengumpulan
Yawm al-Khulūd يوم الخلود Hari kekekalan
Yawm al-Khurūj يوم الخروج Hari Keluar
Yawm al-Ba’th يوم البعث Hari Kebangkitan
Yawm al-Ḥasraṯ يوم الحسرة Hari penyesalan
Yawm al-Tanād يوم التناد Hari pemanggilan
Yawm al-Āzifaṯ يوم الآزفة Hari mendekat
Yawm al-Taghābun يوم التغابن Hari terbukanya aib
Yawm al-Wa’īd يوم الوعيد
Yawm al-Aẕīm اليوم العظيم Hari agung
al-Yawm al-Masyhūd اليوم المشهود Hari penyaksian
al-Qāri’aṯ القارعة Bencana yang menggetarkan
al-Ghāsyiaṯ الغاشية Bencana yang tak tertahankan
al-Ṣākhkhaṯ الصاخة Bencana yang memilukan
al-Tāmmaṯ al-Kubrā الطامة الكبرى Bencana yang melanda
al-Ḥāqqaṯ الحاقة Kebenaran besar
al-Wāqi’aṯ الواقعة Peristiwa besar

rujuk hukum sedekah pahala kepada si mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s