Satu Cinta untuk Semua.

Salam alaik. teringin nk berkongsi hasil tulisan, luahan hati seorang sahabat karib. iA, banyak pengajaran didalamnya.

___________________________

Izinkan diri ini, meluahkan rasa yang sedang menjalur di dada. Singgah seketika, untuk diri ini memperdengarkan luahan jiwa lemah yang cukup kesal dan kecewa ini. Hayati seketika, perkataan-perkataanku yang ku karangkan untuk tatapanmu. Bantu diri ini, berkongsi sedikit beban rasa yang memberat di dada, hingga terasa seperti ingin berhenti dan tidak mahu maju. Izinkan diri ini…

Diri ini begitu bahagia dalam gelak tawa, sehingga begitu takut untuk bersedih, apalagi sengaja tenggelam dalam air mata. Lalu, jiwa lupa kenapa perlu dialirkan air mata ini apalagi buat siapa. Sedangkan, dunia begitu menonjol untuk diri bersedih. Alam begitu mengharap kesedihan ini kerana telah tercipta dan ditanda di dahi ini, gelaran khalifah dan pembawa panji-panji Allah. Telah tertanda di tubuh ini gelaran khalifah dan pembawa panji-panji Allah. Telah tertanda sejak kalimah ‘La ila ha ilallah, Muhammad rasulullah’ terlafaz di bibir. Telah tertanda.

Diri ini begitu bahagia dalam gelak tawa, dan melupakan tugas sebagai khalifah di muka bumi Allah. Alpa, dalam hiburan dunia. Tenggelam dalam godaan iblis laknat. Diri ini lupa dengan tanggungjawab sebagai khalifah Allah, sebagai jiwa raga yang menyebarkan ajaran Islam yang benar dan hakiki ini ke serata dunia. Bahkan, diri ini begitu lalai dengan hal ini, sedangkan begitu ramai teman-teman di sekeliling, yang telah jiwa ini berikrar mengasihi mereka melebihi jiwa raga sendiri tidak kira siapa mereka. Diri ini bahkan berikrar untuk mengasihi dan menyayangi setiap insan yang pernah muncul dalam hidup ini secara langsung atau tidak melebihi nyawa sendiri. Diri ini, yang telah berikrar mengikat tali persahabatan dan persaudaraan atas nama kasih-sayang. Atas nama kasih-sayang.

Kasih-sayangkah, apabila seorang teman yang mengaku memegang kebenaran, membiarkan temannya terkontang-kanting dalam kepalsuan? Kasih-sayangkah, apabila kalimah yang membezakan yang hak dan yang batil disembunyikan kemas dalam diri sendiri? Cintakah, apabila seorang kekasih cuma melihat kejahilan kekasihnya? Rindukah, apabila perindu mebiarkan teman kerinduannya teraba-raba dalam kegelapan? Kasih-sayangkah? Cintakah? Alangkah malangnya sekalian sahabat-sahabatku, kenalan-kenalanku, ibu-bapaku, kakak-kakakku, abang-abangku dan seluruh dunia untuk mempunyai seorang aku dalam kehidupan mereka. Alangkah malangnya. Alangkah malangnya. Alangkah malangnya.

Mampukah diri ini, melihat setiap mereka yang bergelar sahabat dan kenalan bahkan saudara semanusia berbondon-bondon di hukum Allah, jika benar ikatan yang dibina adalah atas dasar kasih-sayang? Mampukah? Diri ini, cuma seorang pembohong besar, yang menjadikan kasih-sayang sebagai batu alas perhubungan. Bila waktu untuk menjadi seorang yang penting diri, diri ini melempar jauh kasih-sayang itu. Munafiknya aku!!!

Diri ini tertawa sendiri, melihat ke langit luas. Merasa seperti begitu besar bebanan ini. Merasa begitu kuatnya tekanan. Masakan tidak, gelaran khalifah Allah itu, diletak di bukit-bukit, pecahlah bukit-bukit itu sedangkan kalaulah seluruh manusia menapak ke bukit-bukit itu masih utuh tegak berdiri ia dengan izin Allah. Maka, tidak terasa berat lagikah pikulan di bahu ini?

Diri ini tertawa sendiri, melihat lautan dalam. Bertanya pada Allah, kenapa aku perlu wujud di dunia memikul tanggungjawab yang paling berat ini. Ia begitu menggerunkan. Apakah diri ini perlu meletakkan tanggunggjawab ini terbiar dan terus hidup dalam kejahilan yang sia-sia, atau menjulangnya tinggi ia sambil menunggu tusukan-tusukan tajam belati musuh-musuh Islam?

Bantulah diri ini wahai sahabat-sahabat yang sama-sama memegang kalimah kebenaran, menjawab setiap soalan yang berat untuk ditekunkan sendirian oleh jiwa kerdil ini. Bantulah diri ini, sama-sama menongkah lautan ini, atas nama satu Cinta untuk semua.

___________________________________

2 thoughts on “Satu Cinta untuk Semua.

  1. as-Salam ‘alaikum, sahabat yang lama tidak bertemu🙂

    Tak mampu teman memberi nasihat,
    cuma berkongsi puisi hakikat.

    “Bergelimang dengan lumpur membuat benih menjadi pohon besar;
    manusia yang bergelimang dengan lumpur akan dipandang cemar.
    Dari lumpur sang benih mendapat tempaan yang meliuk-tekuk dirinya
    sehingga ia dapat menjadikan sinar matahari sebagai mangsanya.

    Adakah engkau mencari tempat bersandar bagi jiwamu?
    Tempat bersandar bagi jiwa tak lebih dari kemayaan semata;
    air mata yang kaucucurkan dalam duka bagi kawan-kawanmu – itulah yang berharga.
    Mata yang kuyup anggur, pandang dan nyanyian dara penggoda serba jelita semuanya,
    tetapi lebih indah dari semua ini – ada sesuatu yang lebih berharga.
    Kemolekan pipi hanya sebentar saja, dan dalam sebentar akan tiada pula;

    keindahan laku dan cita-cita mulia – itulah yang berharga.” -Allama Sir Dr. Muhammad Iqbal

    • jzzk ya akh. maknanya yang dalam. alhamdulillah, masih faham. iA, akan diterapkan dalam hati ini.

      [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘0 which is not a hashcash value.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s